Thursday, July 26, 2012

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT JAMUR TIRAM

         
Masalah utama pemeliharaan jamur tiram adalah kontaminasi dan serangan hama penyakit. Penyediaan sumber nutrisi dan sterilisasi ruangan, peralatan, serta media tumbuh pada pembiakan miselium F4 yang kurang sempurna akan memudahkan kontaminasi berbagai jenis hama penyakit yang merusak sekaligus mematikan jamur tiram. Hama dan penyakit jamur akan mengkonsumsi nutrisi yang terkandung dalam substrat sebelum miselium jamur tumbuh. Biasanya, hama penyakit tumbuh lebih cepat daripada pertumbuhan miselium jamur tiram sehingga terjadi kompetisi (persaingan) yang tidak seimbang dalam pemanfaatan nutrisi yang terkandung dalam substrat (media tumbuh). Bahkan, hama penyakit itu akan merusak miselium dan tubuh jamur tiram yang telah tumbuh.
Masalah lain adalah kebersihan ruangan dan fluktuasi kandungan air dalam media tumbuh. Rumah jamur yang dibuat secara sederhana mudah kotor dan terpolusi oleh kotoran-kotoran yang bersumber dari bahan-bahan pembuatan kubung atau bahan-bahan lain. Demikian pula, pelaksanaan penyiraman yang kurang baik akan menyebabkan fluktuasi kandungan air media tumbuh. Kelebihan atau kekurangan air media tumbuh akan menyebabkan pertumbuhan jamur yang tidak normal dan memudahkan terkontaminasi atau tertularnya jamur tiram oleh hama penyakit atau jamur liar lainnya.
Cara terbaik mengendalikan kontaminasi dan nserangan hama penyakit adalah tindakan pencegahan (preventif). Tindakan pertama adalah menjaga kebersihan rumah jamur dan tempat inkubasi serta rak penanaman (pemeliharaan). Tindakan kedua adalah membuang dan memusnahkan kantong polybag yang terkontaminasi hama-penyakit. Tindakan lain adalah menjaga kebersihan alat pembiakan, pengawasan, dan pengontrol pelaksanaan sterilisasi peralatan,media tumbuh, dan menjaga kebersihan rumah jamur dengan penyemprotan pestisida sebelum dilakuukan penanaman atau selama pemeliharaan dan setiap usai pelaksanaan panen.
Pencegahan hama-penyakit jamur tiram dapat juga dilakukan dengan monitoring lahan (kubung) pemeliharaan secara rutin. Sampah atau kotoran lain yang berserakan diatas lapisan rak atau lantai rumah jamur harus selalu dibersihkan atau dibuang. Pintu dan jendela rumah jamur harus tertutup cukup rapat agar lalat dan serangga lain tidak dapat masuk kedalam rumah jamur karena dapat menjadi sumber penularn penyakit. Semua potongan akar, tunas yang mati, dan pangkal tangkai jamur harus segera dikumpulkan dan dibuang. Substrat, tunas dan tubuh buah jamur yang sedang tumbuh tidak boleh disentuh tangan atau dipegang-pegang. Pekerja yang masuk kedalam rumah jamur harus memakai alas kaki (sepatu) dan peralatan lain yang steril.
Factor-faktor yang mempengaruhi serangan hamapenyakit adalah kondisi iklim, media tumbuh yang kurang baik, daya adaptasi (penyesuaian) jamur terhadap lingkungannya. Macam hama-penyakit jamur tiram adalah serangga, rayap, laba-laba, cacing, siput, jamur parasit, dan saprofit, serta bakteri dan virus.

A. Serangga
Bau (aroma) media tumbuh (substrat)dalam rumah jamur akan mengundang kedatangan serangga yang hidup dan berkembang di lingkungan sekitar rumah jamur. Jenis-jenis serangga yang suka masuk kerumah jamur adalah lalat dan nyamuk. Biasanya, serangga-serangga tersebut masuk rumah jamur bersamaan dengan pelaksanaan dan waktu inkubasi. Serangga-serangga yang berhasil msuk kerumah jamur akan hinggap dan menempel pada substrat atau benda lain dan bergerak (terbang) berpindah-pindah dari substrat ke benda-benda lain dan mereka akan berkembang biak secara alami di rumah jamur tersebut.
Larva-larva serangga yang tumbuh dalam rumah jamur akan memakan miselium dan pada fase akhir siklus hidup dan perkembangannya akan melubangi tunas dan tubuh buah jamur sehingga tumbuh menjadi serangga generasi baru yang lebih resisten. Serangga-serangga ini mulai aktif bergerak (terbang) dan menempel (hinggap) pada sembarang substrat dan jamur yang baik kemudian pindah ke substrat jamur yang rusak dan mati kepada substrat dan jamur yang tumbuh baik.
Serangga merupakan hasil katalisator atau perantara penularan hama-penyakit ataupun spora jamur parasit dan saprofit. Jenis-jenis serangga yang mengganggu dan menularkan hama penyakit pada rumah jamur adalah Lycoriella spp, Megaselia spp, Lepidocyrtus spp, dan Achorutes spp.
Pengendalian serangga dalam rumah jamur dapat dilakukan dengan memasang perangkap berupa lem (plastik) warna kuning. Serangga yang menempel pada lem tersebut akan lengket dan akhirnya mati. Jumlah serangga yang terperangkap merupakan indikasi tingkat (ambang) serangan penularan. Untuk itu, jika jumlah serangga telah melampaui batas ambang harus segera dilakukan tindakan pengendalian (pencegahan atau pemberantasan).
Pencegahan serangga dalam rumah jamur dapat dilakukan dengan memasang kawat kasa yang memiliki lubang mata (mesh size) kecil (lembut) pada lubang ventilasi dan pembias sinar berupa lembaran plastik transparan yang digantungkan di balik pintu kubung. Sedangkan tindak pemberantasan serangga dalam rumah jamur dapat dilakukan dengan penyemprotan atau desinfektisasi, misalnya dengan Diflubenzuron, Diazinon (merk : luxan, basudine, dan diazinon),Dichlorovos (merk : nogos, nuvan, vapona, dedevap, benfos, bibisol, canogard, coopervap, devipan, dyvos, eraksekt, mafu, marvex, mutox, nutrax, phosvit, dan raxo), Sulfotep, Malathion (merk : carbofos, cythion, maldison, malathon, dan mercaption), Cypermethrin (merk : cymbush, luxancypermethrin, dan polythrin) dan Deltamethrin (merk : decis flow 25, deltamethrin flow 25, dan perimco deltamethrin).
B. Rayap
Rayap dapat masuk ke dalam rumah jamur dengan cara menembus diding atau permukaan lantai tanah. Rayap akan memakan kayu-kayu (tiang dan rak) penanaman media tumbuh serta miselium jamur. Karena itu, sebelum pelaksanaan inkubasi dan penanaman jamur, sebaiknya dilakukan pengamatan secara cermat. Jika ditemukan rayap pada permukaan tanah aau di sekitar rak penanaman, maka harus segera dikendalikan dengan Fevalerate, Crypermethrin, Permethrin, atau Chloorpyrifos.
C. Laba-laba
Laba-laba memakan dan merusak miselium atau tubuh buah. Biasanya, laba-laba berkembang di sela-sela susunan polybag media tumbuh. Laba-laba juga sering ditemukan pada media tumbuh jamur yang tidak disiapkan secar cermat dan terkontrol.
Laba-laba dapat menularkan spora jamur parasit dan saprofit. Laba-laba yang telah berkembang dalam ruma jamur sangat sulit dimonitor sehingga tidak mudah dikendalikan.
Upaya pencegahan laba-laba dapat dilakukan dengan penebaran serbuk kapur pada permukaan lantai dan dinding rumah jamur. Penebaran serbuk kapur harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengotori media tumbuh. Sedangkan upaya pemberantasan laba-laba dapat dilakukan dengan penyemprotan pestisida, misalnya Dicofol (merk : kelthane, duphar kelthane) atau Malathion.
D. Cacing
Jutaan ekor cacing tumbuh dan berkembang dalam setiap jengkal tanah. Rumah jamur yang terlalu lembab karena penyemprotan yang berlebihan merupakan media penularan cacing. Cacing-cacing tanah dapat tumbuh dan berkembang pada media tumbuh yang disiapkan kurang baik, misalnya pelaksanaan sterilisasi tidak sempurna. Cacing berkembang dalam media tumbuh akan memakan miselium jamur.
Biasanya, cacing berkembang pada permukaan tanah dan media tumbuh yang ditanam di tempat (ruangan) yang gelap. Pengendalian cacing dapat dilakukan dengan penyinaran khusus pada permukaan lantai rumah jamur. Caranya, taruh dan nyalakan lentera (obor atau lilin) pada permukaan lantai yang menjadi tempat perkembangan cacing.
E. Jamur Parasit dan Saprofit
Jamur parasit dan saprofit yang mengganggu pertumbuhan dan kehidupan jamur tiram dapat dideteksi dari warna spora dan miselium jamur. Jamur parasit dan saprofit akan memakan miselium jamur tiram selama proses inokulasi dan inkubasi. Jamur parasit dan saprofit ini juga memanfaatkan nutrisi media tumbuh sebagai sumber makanannya. Beberapa jenis jamur saprofit dan parasit tumbuh lebih cepat daripada miselium jamur tiram sehingga terjadi kompetisi (perebutan) nutrisi dan pemangsaan (parasitik) miselium jamur tiram.Penyebab infeksi jamur parasit dan saprofit adalah persiapan media tumbuh yang kurang baik atau kontaminasi saat inkubasi dan penanaman (pemeliharaan). (Team Media Kotanimura)


No comments:

Post a Comment