Wednesday, July 18, 2012

JAMUR TIRAM DAN PELUANG PASAR YANG MENJANJIKAN


Tradisi mengonsumsi jamur sudah berjalan sejak lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Hampir seluruh penduduk di berbagai belahan bumi ini pernah merasakan nikmatnya masakan yang berasal dari jamur. Bahkan, masyarakat di negara maju sudah mewajibkan untuk mencantumkan jamur di dalam daftar belanja bulanan mereka. Dengan demikian, kondisi ini menciptakan pasar, mulai dari tingkat local, regional, nasional dan internasional berpeluang cukup besar.
Walaupun Indonesia termasuk terlambat ikut bermain di pasar jamur internasional karena baru mulai melakukan ekspor pada dekade 1970-an, peranannya sebagai pemasok jamur sudah mendapat pengakuan dari sesama negara produsen jamur konsumsi. Pada masa kejayaannya, sebuah perusahaan jamur di Wonosobo, jawa Tengah, pernah tercatat sebagai produsen jamur terbesar di Asia Tenggara. Hampir sebagian besar produksi mereka diekspor ke Amerika Serikat, Kanada,TimurTengah, dan Jepang.
Pasar jamur dunia sangat besar, namun Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi hanya mampu memasok 0,9% saja dari pasar dunia, angka tersebut sangat kecil jika dibanding dengan China yang memasok 33,2% Pasar jamur dunia.
“Produksi jamur Indonesia sudah rendah, volumenya juga terus menurun, padahal kalau dikembangkan jamur ini sangat potensial bagi perekonomian Indonesia,” kata Dirjen Hortikultura Deptan, Dr Ahmad Dimyati MS dalam Workshop tentang Pengembangan Produk dan Industri Jamur Pangan Indonesia di Jakarta.
Sebaliknya volume impor yang pada 2000 hanya 1,47 juta ton dengan nilai US$0,39 juta, pada 2003 volume impornya naik menjadi 1,54 juta ton dengan nilai US$0,68 juta.
Menurut Dirjen, ini patut disayangkan karena berarti nilai konsumsi dunia yang semakin besar tidak bisa dipasok oleh potensi dalam negeri yang semakin ‘melempem’, sebaliknya pasar domestik yang meningkat makin dikuasai oleh jamur impor.
Budidaya jamur sebenarnya relatif mudah, waktu panennya cepat, apalagi lahan di Indonesia juga sangat tersedia, karena itu memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan perlu dikembangkan.
Ketidakberdayaan industri jamur nasional disebabkan berbagai hal seperti produsen benih yang terbatas, tidak adanya standarisasi dan jaminan kualitas bibit, teknologi produksi yang belum dibakukan, tempat pembiakan jamur yang kurang higienis serta penanganan pasca panen yang sederhana.
Selain itu, terbatasnya permodalan petani, bank yang belum mendukung serta prosedur yang berbelit, sehingga penjualannya dikuasai tengkulak. Penyebab lain tidak tersedianya profil atau informasi komoditas yang menyeluruh yang dapat dimanfaatkan para pelaku bisnis jamur.
Karena itu, produksi jamur Indonesia memerlukan penataan dari mulai rantai pemasok hingga ke gerai domestik dan luar negeri, peningkatan kerjasama dan koordinasi, peningkatan ketrampilan SDM, penelitian dan transfer teknologi, memfasilitasi kemitraan petani dan pengusaha sampai eksportir, hingga permodalan.
Sementara itu, Deputi bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Dr Wahono Sumaryono mengatakan, target ke depan volume dan nilai produksi jamur Indonesia harus naik. Ada dua jenis pasar jamur yang akan dikembangkan, yakni pasar jamur untuk pangan dan jamur untuk farmasi.
“Kasarnya, misalnya ditargetkan untuk ke pangan 70% dan farmasi 30%, karena pasar jamur untuk pangan jauh lebih besar meski nilainya rendah, sementara pasar farmasi kecil mesih nilainya tinggi,”.
Dari 15 jenis jamur yang telah dibudayakan dunia, jamur pangan yang cocok dibudidayakan di Indonesia antara lain jamur merang dan jamur Tiram Putih, sedangkan jamur untuk farmasi adalah dari spesies schyzophilosis dan spesies lentinus.
Manfaat dari jamur rata-rata sebagai ‘imunomodulatorillah’ atau perangsang meningkatnya daya tahan tubuh, karena itu selain sebagai pangan juga diharapkan sebagai obat-obatan atau suplemen.
Peluang Pasar Domestik
Penduduk Indonesia yang saat ini berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, merupakan pasar yang sangat besar untuk pemasaran jamur konsumsi. Terlebih lagi, jika budaya mengonsumsi jamur bisa dikembangkan seperti di negara-negara maju yang masyarakatnya sudah sangat menggemari masakan dari jamur.
Menurut data yang dibuat BPS (Badan Pusat Statistik), konsumsi sayur masyarakat Indonesia pada tahun 2002 tercatat sebesar 30,8 kg/kapita/tahun. Badan kesehatan dunia (FAO) menyatakan bahwa jumlah konsumsi sayuran untuk memenuhi standar kesehatan adalah sebesar 65 kg/kapita/tahun. Dari kedua data tersebut terlihat bahwa konsumsi sayur masyarakat Indonesia belum separuhnya dari rekomendasi FAO. Kondisi inilah yang menjadikan peluang usaha jamur konsumsi di dalam negeri masih sangat terbuka lebar.
Namun, mengingat harganya yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan sayuran lain, pasaran jamur konsumsi di Indonesia masih terfokus di kota-kota besar dengan konsumen tertentu. Permintaaan jamur konsumsi biasanya datang dari rumah makan, hotel-hotel berbintang, rumah makan vegetarian, dan restoran kelas atas yang menyediakan menu olahan jamur.
Sementara itu, di Solo, seorang pengusaha katering skala menengah membutuhkan sedikitnya 200 kg jamur/minggu. Jika di Solo terdapat minimum 10 katering skala menengah seperti ini, kebutuhan jamur mencapai 2.000 kg /minggu.
Kebutuhan tersebut baru untuk memenuhi permintaan jamur segar. Padahal jamur konsumsi tidak hanya dipasarkan dalam keadaan segar, tetapi juga dapat diolah lebih lanjut menjadi produk olahan siap saji seperti keripik atau abon. Produk-produk tersebut selain meningkatkan nilai tambah juga merupakan perluasan pemasaran untuk menjaring lebih banyak konsumen.
Dengan demikian koperasi petani jamur nusantara yang terletak didaerah jember, masih cukup potensial untuk mengembangkannya, mengingat pasat dari tingkat local sampai pada tingkat internasional masih terbuka lebar terhadap proses penjualan jamur. (Team Media Kotanimura).

No comments:

Post a Comment